TEORI SEM (STRUCTURAL EQUATION MODEL)
1.1. Pengertian
Structural Equation Modeling (SEM)
1.1.1. Definisi Istilah
Apa sebenarnya
structural equation modeling
(SEM) itu? Terdapat beberapa definisi SEM, diantaranya ialah sebagai
berikut:
Structural equation modeling, yang
dalam buku ini untuk selanjutnya akan disebut
SEM, adalah suatu teknik modeling statistik yang bersifat sangat
cross-sectional, linear dan umum. Termasuk dalam SEM ini ialah analisis faktor
(factor analysis), analisis jalur (path analysis) dan regresi (regression
).
Definisi lain menyebutkan structural equation
modeling (SEM) adalah teknik analisis multivariat yang umum dan sangat
bermanfaat yang meliputi versi-versi khusus dalam jumlah metode analisis
lainnya sebagai kasus-kasus khusus.
Definisi
berikutnya mengatakan bahwa Structural equation modeling (SEM) merupakan
teknik statistik yang digunakan untuk membangun dan menguji model statistik
yang biasanya dalam bentuk model-model sebab akibat. SEM sebenarnya merupakan
teknik hibrida yang meliputi aspek-aspek penegasan (confirmatory) dari
analisis faktor, analisis jalur dan regresi yang dapat dianggap sebagai kasus
khusus dalam SEM.
Sedikit berbeda dengan
definisi-definisi sebelumnya mengatakan
structural equation modeling (SEM) berkembang dan mempunyai fungsi mirip
dengan regresi berganda, sekalipun demikian nampaknya SEM menjadi suatu teknik
analisis yang lebih kuat karena mempertimbangkan pemodelan interaksi,
nonlinearitas, variabel – variabel bebas
yang berkorelasi (correlated independents), kesalahan pengukuran,
gangguan kesalahan-kesalahan yang berkorelasi (correlated error terms),
beberapa variabel bebas laten (multiple latent independents) dimana
masing-masing diukur dengan menggunakan banyak indikator, dan satu atau dua
variabel tergantung laten yang juga masing-masing diukur dengan beberapa
indikator. Dengan demikian menurut definisi ini SEM dapat digunakan alternatif
lain yang lebih kuat dibandingkan dengan
menggunakan regresi berganda., analisis jalur, analisis faktor, analisis time
series, dan analisis kovarian
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa SEM
mempunyai karakteristik yang bersifat sebagai teknik analisis untuk lebih
menegaskan (confirm) dari pada untuk
menerangkan. Maksudnya, seorang peneliti lebih cenderung menggunakan SEM untuk
menentukan apakah suatu model tertentu valid atau tidak dari pada
menggunakannya untuk menemukan suatu model tertentu cocok atau tidak, meski
analisis SEM sering pula mencakup elemen-elemen yang digunakan untuk
menerangkan.
1.1.2. Pengertian
Pada umumnya orang menggunakan SEM lebih berfokus pada konstruk-konstruk laten—yang
dimaksud ialah variabel-variabel psikologis abstrak, seperti
"kecerdasan" atau "sikap terhadap merek (brand)"—dibandingkan
dengan variabel-variabel manifest (indikator) yang digunakan untuk mengukur
konstruk-konstruk tersebut. Pengukuran dianggap sulit dan rentan dengan
kesalahan. Dengan adanya kesalahan pengukuran modeling yang dapat terjadi
secara eksplisit, para pengguna SEM berusaha menurunkan estimasi-estimasi yang
tidak bias untuk hubungan antara konstruk laten. Pada akhirnya, SEM memungkinkan pengukuran jamak dihubungkan
dengan konstruk laten tunggal.
SEM mencakup pengukuran struktur matriks
covariance atau disebut juga sebagai "analisis struktur covariance".
Sekali model parameter-parameternya sudah diestimasi, maka model yang
dihasilkan – matrik covariance kemudian dapat dibandingkan dengan matrik
kovarian yang berasal dari data empiris. Jika kedua matrices konsisten satu dengan lainnya, maka model persamaan
struktural tersebut dapat dianggap
sebagai eksplanasi yang dapat diterima untuk hubungan-hubungan antara
pengukuran-pengukuran tersebut.
Salah
satu keunggulan SEM ialah kemampuan untuk membuat model konstruk-konstruk sebagai variabel
laten atau variabel – variabel yang tidak
diukur secara langsung, tetapi
diestimasi dalam model dari variabel-variabel yang diukur yang diasumsikan
mempunyai hubungan dengan variabel tersebut– variabel latent. Dengan demikian
hal ini memungkinkan pembuat model secara eksplisit dapat mengetahui
ketidak-reliabilitas suatu pengukuran dalam model yang mana teori mengijinkan
relasi – relasi struktural antara variabel-variabel laten yang secara tepat
dibuat suatu model.
Kenggulan-keunggulan SEM lainnya dibandingkan
dengan regresi berganda diantaranya ialah
1.
Pertama, memungkinkan adanya asumsi-asumsi yang lebih
fleksibel;
2.
Kedua, penggunaan analisis faktor penegasan (confirmatory
factor analysis) untuk mengurangi kesalahan pengukuran dengan memiliki
banyak indikator dalam satu variabel laten;
3.
Ketiga, daya tarik interface pemodelan grafis untuk
memudahkan pengguna membaca keluaran hasil analisis;
4.
Keempat, kemungkinan adanya pengujian model secara
keseluruhan dari pada koefesien-koefesien secara sendiri-sendiri;
5.
Kelima, kemampuan untuk menguji model – model dengan
menggunakan beberapa variabel tergantung;
6.
Keenam, kemampuan untuk membuat model terhadap
variabel-variabel perantara;
7.
Ketujuh, kemampuan untuk membuat model gangguan
kesalahan (error term);
8.
Kedelapan, kemampuan untuk menguji koefesien-koefesien
diluar antara beberapa kelompok subyek;
9.
Kesembilan kemampuan
untuk mengatasi data yang sulit, seperti data time series dengan
kesalahan otokorelasi, data yang tidak normal, dan data yang tidak lengkap.
Meskipun tidak merupakan hal yang wajib, sangat direkomendasikan untuk
mengetahui teknik analisis faktor, jika seorang peneliti ingin menggunakan SEM.
Aplikasi utama structural equation modeling meliputi:
- Model sebab akibat (causal
modeling,) atau disebut juga analisis jalur (path analysis),
yang menyusun hipotesa hubungan-hubungan sebab akibat (causal relationships) diantara
variabel - variabel dan menguji model-model sebab akibat (causal models) dengan
menggunakan sistem persamaan linier. Model-model sebab akibat dapat
mencakup variabel-variabel manifest
(indikator), variabel-variabel laten
atau keduanya;
- Analisis faktor penegasan (confirmatory
factor analysis), suatu teknik kelanjutan dari analisis faktor dimana
dilakukan pengujian hipotesis –
hipotesis struktur factor loadings dan interkorelasinya;
- Analisis faktor urutan
kedua (second order factor analysis), suatu variasi dari teknik
analisis faktor dimana matriks korelasi dari faktor-faktor tertentu ( common
factors) dilakukan analisis pada faktornya sendiri untuk membuat
faktor-faktor urutan kedua;
- Model-model regresi (regression
models), suatu teknik lanjutan dari analisis regresi linear dimana
bobot regresi dibatasi agar menjadi sama satu dengan lainnya, atau
dilakukan spesifikasi pada nilai-nilai numeriknya;
- Model-model struktur
covariance (covariance structure models), yang mana model tersebut menghipotesakan
bahwa matrix covariance mempunyai bentuk tertentu. Sebagai contoh, kita
dapat menguji hipotesis yang menyusun semua variabel yang mempunyai varian
yang sama dengan menggunakan prosedur yang sama;
- Model struktur korelasi (correlation
structure models), yang mana model tersebut menghipotesakan bahwa
matrix korelasi mempunyai bentuk tertentu. Contoh klasik adalah hipotesis
yang menyebutkan bahwa matrix korelasi mempunyai struktur circumplex.
Berbagai jenis model dalam SEM sudah termasuk dalam kategori
di atas.
Prosedur SEM bersifat penegasan (confirmatory)
dibandingkan sebagai prosedur yang bersifat eksploratori. Hal ini dikarenakan
penggunaan salah satu pendekatan sebagai berikut:
- Pendekatan
penegasan saja (strictly confirmatory approach): artinya suatu
model diuji dengan menggunakan uji keselarasan SEM (goodness-of-fit
tests) untuk menentukan jika pola
varians dan kovarians dalam suatu data bersifat konsisten dengan model jalur struktural
yang dibuat secara spesifik oleh peneliti. Sekalipun demikian pada saat
model-model lain yang tidak teramati dapat sesuai dengan datanya atau bahkan lebih baik, maka
model yang diterima model yang
diterima hanya berupa model penegasan saja.
- Pendekatan
model-model alternatif (alternative models approach): maksudnya
peneliti dapat melakukan pengujian dua atau lebih model-model sebab akibat
untuk menentukan model mana yang paling cocok. Ada
banyak pengukuran keselarasan yang mencerminkan pertimbangan-pertimbangan
yang berbeda dan biasanya peneliti melaporkan 3 atau 4 saja.
- Pendekatan
pengembangan model (model development approach): Dalam praktiknya,
banyak penelitian yang menggunakan SEM menggabungkan antara tujuan-tujuan
yang bersifat konfirmatori dan
eksploratori, yaitu suatu model
diuji dengan menggunakan prosedur-prosedur
SEM, karena merasa tidak cukup efisien, maka suatu model alternatif
kemudian diuji didasarkan pada perubahan-perubahan sebagaimana disarankan dalam
indeks-indeks modifikasi SEM. Masalah dengan pendekatan ini ialah bahwa
model – model yang ditegaskan dengan menggunakan cara seperti bisa tidak
stabil atau tidak akan cocok dengan data yang baru karena sudah di buat
didasarkan pada keunikan seperangkat data awal. Untuk mengatasi hal ini,
peneliti dapat menggunakan strategi validasi silang dimana model
dikembangkan dengan sampel data kalibrasi dan kemudian dikonfirmasi dengan
menggunakan sampel validasi yang independen.
Dengan mengabaikan pendekatan
apapun yang digunakan, SEM tidak dapat secara otomatis menggambar panah-panah
sebab akibat dalam model – model tersebut atau menyelesaikan ambiguitas sebab
akibat Oleh karena itu, pengertian secara teoritis dan penilaian yang dilakukan
oleh peneliti tetap menjadi satu faktor yang paling penting.
1.2. Asumsi
Untuk menggunakan SEM, peneliti memerlukan pengetahuan
tentang asumsi-asumsi yang mendasari penggunaannya. Beberapa asumsi tersebut,
diantaranya ialah:
- Distribusi
normal indikator – indikator multivariat (Multivariate normal distribution
of the indicators): Masing-masing indikator mempunyai nilai
yang berdistribusi normal terhadap masing-masing indikator lainnya. Karena
permulaan yang kecil normalitas multivariat dapat menuntun kearah
perbedaan yang besar dalam pengujian chi-square, dengan demikian akan
melemahkan kegunaannya. Secara umum, pelanggaran asumsi ini menaikkan chi-square
sekalipun demikian didalam kondisi
tertentu akan menurunkannya. Selanjutnya penggunaan pengukuran ordinal
atau nominal akan menyebabkan
adanya pelanggaran normalitas multivariat. Perlu diperhatikan bahwa
normalitas multivariat diperlukan untuk estimasi kemiripan maksimum / maximum likelihood estimation
(MLE), yang merupakan metode
dominan dalam SEM yang akan digunakan untuk membuat estimasi
koefesien - koefesien (jalur)
struktur. Khususnya, MLE membutuhkan variabel-variabel endogenous
yang berdistribusi normal.
Secara umum, sebagaimana
ditunjukkan dalam suatu studi-studi
simulasi menunjukkan bahwa dalam
kondisi – kondisi data yang sangat tidak normal, estimasi-estimasi parameter
SEM, misalnya estimasi jalur masih dianggap akurat tetapi koefesien-koefesien
signifikansi yang bersangkutan akan menjadi terlalu tinggi. Sehingga
nilai-nilai chi-square akan meningkat. Perlu diingat bahwa untuk uji keselarasan
chi-square dalam model keseluruhan, nilai chi-square tidak harus signifikan
jika ada keselarasan model yang baik, yaitu: semakin tinggi nilai chi-square,
semakin besar perbedaan model yang diestimasi dan matrices kovarian
sesungguhnya, tetapi keselarasan model semakin jelek. Chi-square yang meninggi
dapat mengarahkan peneliti berpikir bahwa model-model yang sudah dibuat
memerlukan modifikasi dari apa yang seharusnya. Kurangnya normalitas
multivariat biasanya menaikkan statistik chi-square, misalnya, statistik
keselarasan chi-square secara
keseluruhan untuk model yang bersangkutan akan bias kearah kesalahan Type I,
yaitu menolak suatu model yang seharusnya diterima. Pelanggaran terhadap
normalitas multivariat juga cenderung menurunkan (deflate) kesalahan-kesalahan
standar mulai dari menengah sampai ke tingkat tinggi. Kesalahan-kesalahan yang
lebih kecil dari yang seharusnya terjadi mempunyai makna jalur-jalur regresi
dan kovarian-kovarian faktor / kesalahan didapati akan menjadi signifikan secara statistik dibandingkan dengan
seharusnya yang terjadi.
- Distribusi
normal multivariat variabel-variabel tergantung laten ( Multivariate
normal distribution of the latent dependent variables). Masing-masing
variabel tergantung laten dalam model harus didistribusikan secara normal
untuk masing-masing nilai dari masing-masing variabel laten lainnya.
Variabel-variabel laten dichotomi akan melanggar asumsi ini karena alasan-alasan tersebut.
- Linieritas
(Linearity). SEM mempunyai asumsi adanya hubungan linear antara
variabel-variabel indikator dan variabel-variabel laten, serta antara
variabel-variabel laten sendiri. Sekalipun demikian, sebagaimana halnya dengan
regresi, peneliti dimungkinkan untuk menambah transformasi eksponensial,
logaritma, atau non-linear lainnya dari suatu variabel asli ke dalam model
yang dimaksud.
- Pengukuran
tidak langsung (Indirect
measurement): Secara tipikal, semua variabel dalam model merupakan variabel-variabel laten.
- Beberapa
indikator (Multiple indicators). Beberapa indikator harus digunakan untuk
mengukur masing-masing variabel laten dalam model. Regresi dapat dikatakan
sebagai kasus khusus dalam SEM dimana hanya ada satu indikator per
variabel laten. Kesalahan pemodelan dalam SEM membutuhkan adanya lebih
dari satu pengukuran untuk masing-masing
variabel laten.
- Secara
teoritis tidak sedang atau baru saja diidentifikasi (Underidentified). Suatu model baru saja
teridentifikasi jika ada banyak parameter yang harus diestimasi sebanyak
adanya elemen – elemen dalam matriks kovarian. Sebagai contoh, dalam suatu model dimana variabel 1
mempengaruhi variabel 2 dan juga mempengaruhi variabel 3, dan
variabel 2 juga mempengaruhi variabel 3. Dengan demikian ada tiga
parameter (anak panah) dalam model, dan ada tiga unsur kovarian (1,2; 1,3;
2,3). Dalam kasus yang baru saja teridentifikasi, peneliti dapat menghitung parameter – parameter jalur
tetapi untuk melakukannya harus memanfaatkan semua derajat kebebasan yang
tersedia (degrees of freedom) dan peneliti tidak dapat menghitung
uji keselarasannya.
Suatu model disebut underidentified, atau model
yang mana jumlah parameternya yang sedang diestimasi lebih besar dari data yang
sudah diketahui, atau dengan kata lain adalah jika terdapat lebih parameter
yang harus diestimasi daripada elemen-elemen dalam matriks kovarian.
Karakteristik matematis model-model yang sedang diidentifikasi menghalangi
penyelesaian parameter yang diestimasi
dan dilakukan pengujian keselarasan dalam model. Pemecahan masalah ini
ialah dengan cara menambah lagi lebih banyak variabel-variabel exogenous, yang
harus dilakukan sebelum koleksi data.
Jika suatu model disebut underidentified
atau baru saja diidentifikasi, maka
peneliti harus melakukan salah satu atau beberapa langkah-langkah sebagai
berikut:
- Hilangkan
pembalikan umpan balik (feedback loops) dan pengaruh-pengaruh
sebab akibat (reciprocal
effects).
- Spesifikasi pada
tingkat yang pasti setiap koefesien yang magnitude-nya sudah pasti
diketahui.
- Sederhanakan model
dengan cara mengurangi jumlah anak panah, yang sama dengan mengendalikan
estimasi koefesien jalur sampai 0.
- Sederhanakan model
dengan estimasi jalur (anak panah) dengan cara-cara lain, yaitu:
kesejajaran (equality), artinya sama dengan estimasi yang lain), proporsional ( proportionality),
artinya proporsional dengan estimasi yang lain,
atau ketidak-sejajaran (inequality), artinya lebih besar atau lebih kecil
daripada estimasi yang lain.
- Pertimbangkan untuk
menyederhanakan model dengan cara menghilangkan beberapa variabel.
- Hilangkan beberapa
variabel yang nampaknya mempunyai multicollinear dengan
variabel-variabel lainnya.
- Tambahkan
variabel-variabel exogenous yang sebaiknya dilakukan sebelum pengambilan
data.
- Miliki
setidak-tidaknya tiga indikator untuk satu variabel laten.
- Tegaskan opsi untuk
the listwise, bukan pairwise, dan perlakuan terhadap data
yang hilang sudah dipilih.
- Pertimbangkan untuk
menggunakan bentuk estimasi yang berbeda, misalnya GLS atau ULS sebagai ganti MLE.
·
Rekursivitas (Recursivity):
Suatu model disebut rekursif jika semua
anak panah menuju satu arah, tidak ada pembalikan umpan balik (feedback
looping), dan faktor gangguan (disturbance terms) atau kesalahan
sisaan (residual error) untuk variabel-variabel endogenous yang tidak
dikorelasikan. Dengan kata lain, model-model recursive merupakan model-model
dimana semua anak panah mempunyai satu arah tanpa putaran umpan balik dan
peneliti dapat membuat asumsi kovarian – kovarian gangguan kesalahan semua 0,
yang berarti bahwa semua variabel yang tidak diukur yang merupakan determinan dari variabel-variabel endogenous
tidak dikorelasikan satu dengan lainnya sehingga tidak membentuk putaran umpan
balik (feedback loops). Model – model dengan gangguan kesalahan yang
berkorelasi dapat diperlakukan sebagai model recursive hanya jika tidak ada
pengaruh-pengaruh langsung diantara variabel-variabel endogenous. Contoh bentuk
rekursive dapat dilihat dalam contoh di bawah ini yang diambil dari John Fox
(2002):

Konvensi berikut ini diantaranya menggunakan
model makroekonomi dari Klein untuk menggambarkan diagram jalurnya.
·
Variabel-variabel
yang diobservasi secara langsung diletakkan dalam kotak empat persegi panjang.
·
Variabel-variabel
yang tidak diobservasi diletakan dalam lingkaran, umumnya bentuknya elips.
Dalam model ini, variabel-variabel yang tidak dobservasi hanya merupakan
variabel gangguan (disturbances).
·
Variabel-variabel
exogenous diwakili dengan x; variabel-variabel endogenous dengan y; dan
gangguan dengan ζ.
·
Anak
panah satu arah mewakili parameter-parameter struktural. Variabel-variabel
endogenous dibedakan dari variabel-variabel exogenous dengan mempunyai anak
panah satu arah menuju kearah variabel-variabel tersebut, sedang
variabel-variabel exogenous hanya nampak pada ekor anak panah satu arah.
·
Anak
panah dengan dua arah mewakili kovarian-kovarian bukan penyebab, secara
potensial tidak bernilai nol, dan kovarian antara variabel-variabel exogenous
dan umumnya diantara gangguan-gangguan.
·
Seperti
sebelumnya, γ digunakan sebagai parameter –parameter struktural yang
menghubungkan antara satu variabel endogenous dengan variabel exogenous, sedang
β digunakan sebagai parameter-parameter struktural yang menghubungkan satu
variabel endogenous dengan variabel endogenous lainnya.
·
Dalam
hal tertentu pengurutan variabel-variabel dalam bentuk horisontal berhubungan
dengan urutan sebab akibatnya:
Dengn demikian, ‘penyebab’
nampak disebelah kiri dari ‘akibat.’
Persamaan-persamaan struktural model ini dapat dibaca dari diagram jalur sebagai berikut:
y1i = γ10 + γ11x1i + γ12x2i
+ ζ1i
y2i = γ20 + γ21x1i + γ22x2i
+ β21y1i + ζ2i
y3i = γ30 + γ32x2i + β31y1i
+ β32y2i + ζ2i
Model-model
recursive mempunyai dua karaktareistik sebagai berikut:
·
Tidak
ada jalur arah sebab akibat (reciprocal directed paths) atau feedback
loops dalam diagram jalur.
·
Gangguan
berbeda bersifat independent antara satu dengan lainnya. Sebagai akibat dari
dua ciri ini, maka, predictors
dalam suatu persamaan struktural dengan model recursive selalu bebas dari
kesalahan persamaan tersebut, dan persamaan struktural dapat diestimasi dengan
menggunakan regresi OLS. Membuat estimasi model recursive hanya merupakan
ururtan dari regresi OLS.
- Tidak
dapat diidentifikasi secara empiris karena adanya multikolinearitas tinggi:
Suatu model dapat secara teoritis diidentififikasi tetapi tidak dapat
diselesaikan karena masalah-masalah empiris, misalnya adanya
multikolinearitas tinggi dalam setiap model, or atau estimasi jalur (path
estimates) mendekati 0 dalam model-model non-recursive.
Tanda-tanda multikolinearitas tinggi,
diantaranya:
- Pembobotan regresi yang dibakukan: Karena semua
variabel model SEM sudah dikenakan metrik sebesar 1, maka semua
pembobotan regresi yang dibakukan
harus berada dalam cakupan plus atau minus 1. Apabila ada masalah
multikolinearitas, pembobotan yang mendekati 1 menunjukkan bahwa dua
variabel mendekati untuk sedang diidentifikasil. Jika kedua variabel
laten yang hampir identik ini kemudian digunakan sebagai penyebab
terhadap variabel laten ketiga, maka metode SEM akan mengalami kesulitan
dalam proses penghitungan pembobotan-pembobotan regresi yang terpisah
untuk dua jalur dari variabel-variabel yang hampir sama dan variabel
ketiga. Sebagai hasilnya akan muncul satu pembobotan regresi yang
dibakukan lebih besar dari +1 dan satu pembobotan kurang dari -1 untuk
kedua jalur tersebut.
- Kesalahan-kesalahan
standar pada pembobotan regresi yang tidak baku:
Jika ada dua variabel laten yang hampir mirip, dan keduanya digunakan
sebagai penyebab satu variabel laten ketiga, kesulitan dalam menghitung
pembobotan regresi terpisahkan terefleksikan dalam kesalahan-kesalahan satndar yang
semakin besar untuk jalur-jalur tersebut dalam suatu model, yang
merefleksikan multikolinearitas yang tinggi dari kedua variabel yang
hampir sama tersebut.
- Kovarian-kovarian
estimasi parameter: Kesulitan yang sama dalam penghitungan pembobotan regresi terpisah akan
terefleksikan secara jelas dengan
tingginya angka kovarian estimasi parameter untuk jalur-jalur tersebut –
estimasi lebih tinggi dibandingkan dengan kovarian –kovarian estimasi –
estimasi parameter untuk jalur-jalur lain dan model tersebut.
- Estimasi-estimasi
varian: Akibat lain dari sindrom multikolinearitas yang sama adalah
estimasi – estimasi varian kesalahan
negatif. Pada contoh di atas dua variabel laten yang hampir sama
mempengaruhi satu variabel laten ketiga, maka estimasi varian dari
variabel ketiga ini akan negatif.
- Data
interval: Sebaiknya data
interval digunakan dalam
SEM. Sekalipun demikian, tidak seperti pada analisis jalur tradisional, kesalahan
model-model SEM yang eksplisit muncul karena penggunaan data ordinal.
Variabel-variabel exogenous berupa variabel-variabel dichotomi atau dummy
dan variabel dummy kategorikal tidak boleh digunakan dalam variabel-variabel endogenous. Penggunaan
data ordinal atau nominal akan mengecilkan koefesien matriks korelasi yang
digunakan dalam SEM.
- Ketepatan
yang tinggi: Apakah data berupa data interval atau ordinal, data-data
tersebut harus mempunyai jumlah nilai yang besar. Jika variabel – variabel
mempunyai jumlah nilai yang sangat
kecil, maka masalah-masalah metodologi akan muncul pada saat peneliti
membandingkan varian dan kovarian, yang merupakan masalah sentral dalam
SEM.
- Residual-residual
acak dan kecil: Rata-rata
residual – residual atau
kovarian hasil pengitungan yang diestimasikan minus harus sebesar 0,
sebagaimana dalam regresi. Suatu
model yang sesuai akan hanya mempunyai residual – residual kecil. Residual
– residual besar menunjukkan kesalahan spesifikasi model, sebagai contoh,
beberapa jalur mungkin diperlukan untuk ditambahkan ke dalam model tersebut.
- Gangguan
kesalahan yang tidak berkorelasi (Uncorrelated error terms)
seperti dalam regresi, maka gangguan kesalahan diasumsikan saja. Sekalipun
demikian, jika memang ada dan dispesifikasi secara eksplsit dalam
model oleh peneliti, maka kesalahan yang berkorelasi (correlated error)
dapat diestimasikan dan dibuat modelnya dalam SEM.
- Kesalahan
residual yang tidak berkorelasi (Uncorrelated residual error):
Kovarian nilai – nilai variabel tergantung yang diprediksi dan
residual – residual harus sebesar 0.
- Multikolinearitas
yang lengkap: multikolinearitas diasumsikan tidak ada, tetapi korelasi
antara semua variabel bebas dapat dibuat model secara eksplisit dalam SEM.
Multikolinearitas yang lengkap akan menghasilkan matrices kovarian tunggal, yang mana
peneliti tidak dapat melakukan penghitungan tertentu, misalnya inversi
matrix karena pembagian dengan 0 akan terjadi.
- Ukuran
Sampel tidak boleh kecil karena
SEM bergantung pada pengujian-pengujian yang sensitif terhadap
ukuran sampel dan magnitude
perbedaan-perbedaan matrices
kovarian. Secara teori, untuk ukuran sampelnya berkisar antara 200
- 400 untuk model-model yang mempunyai indikator antara 10 - 15. Satu
survei terhadap 72 penelitian yang menggunakan SEM didapatkan median sukuran sampel sebanyak 198.
Sampel di bawah 100 akan kurang baik hasilnya jika menggunakan SEM.
1.3. Prinsip
Dasar Dibalik SEM
Dalam statistik terdapat generaliasi yang
menyatakan bahwa beberapa variabel saling terkait satu dengan yang lain
dalam suatu kelompok persamaan linear.
Aturan-aturannya kemudian menjadi lebih rumit, penghitungan-penghitungan
menjadi lebih rumit, sekalipun demikian dasarnya tetap sama, yaitu peneliti
dapat menguji apakah variabel-variabel tersebut saling berkaitan satu dengan
yang lainnya melalui satu perangkat hubungan-hubungan linear dengan memerksa
varian-varian dan kovarian variabel-variabel tersebut.
Para ahli statistik telah
mengembangkan prosedur – prosedur untuk menguji apakah seperangkat varian dan
kovarian dalam suatu matrix cocok dengan struktur tertentu. Cara pemodelan
struktural bekerja sebagai berikut:
- Nyatakan secara tegas
bahwa beberapa variabel berkaitan
antara satu dengan yang lainnya dengan menggunakan diagram jalur.
- Teliti melalui beberapa
aturan internal yang kompleks implikasi-implikasi apa saja dalam kaitannya
degan varian – varian dan
kovarian-kovariannya beberapa variabel tersebut.
- Ujilah apakah semua varian
dan kovarian cocok dengan modelnya.
- Laporkan hasil-hasil
pengujian statistik, dan juga estimasi-estimasi parameter serta kesalahan-kesalahan standard untuk semua
koefisen numerik yang ada dalam persamaan linear.
- Berdasarkan semua
informasi di atas, peneliti memutuskan apakah model nampak sesuai dengan data yang dipunyai atau
tidak.
Terdapat beberapa hal yang penting dan sangat
mendasar untuk melakukan proses ini, yaitu:
·
Pertama, meski proses penghitungan matematis SEM
sangat rumit, sebenarnya logika dasarnya sudah tercakup dalam lima
langkah di atas
·
Kedua, kita harus ingat adalah sesuatu yang
tidak masuk akal jika peneliti mengharapkan model struktural sesuai secara sempurna. Suatu model struktural dengan
hubungan-hubungan linear hanya dapat mendekati kesesuaian. Karena dalam
kenyataan sehari hari dunia ini tidak linear. Oleh karena itu sebenarnya
hubungan-hubungan antar variabel mungkin tidak linear juga. Sehingga
asumsi-asumsi pertanyaannya seharusnya tidak seperti ini: "Apakah model
yang dibuat cocok benar?" melainkan sebagai berikut: "Apakah model cukup
sesuai mendekati kenyataan dan memberikan keterangan yang masuk akal terhadap
kecenderungan data yang dimiliki?”
- Ketiga, peneliti harus ingat bahwa hanya karena
model sudah sesuai dengan data maka secara otomatis model tersebut benar.
Oleh karena itu, peneliti dapat menyatakan jika suatu model sebab akibat
itu benar, maka akan sesuai degan data yang ada. Akan tetapi model yang
sesuai dengan data tidak secara langsung berarti model tersebut benar,
karena akan ada model lain juga yang akan sesuai dengan data.
1.4. Konsep-Konsep dan Istilah Dasar
Bagian ini akan dibahas beberapa konsep dasar dalam SEM,
diantaranya:
- Dua
tahapan proses SEM: pertama, melakukan validasi model pengukuran dan
kedua menyesuaikan dengan model
struktural. Langkah pertama
diselesaikan dengan melalui analisis faktor penegasan (confirmatory
factor analysis), sedang langkah kedua diselesaikan melalui analisis
jalur (path analysis) dengan variabel-variabel laten. Peneliti memulai dengan melakukan
spesifikasi suatu model didasarkan
pada teori. Masing-masing variabel dalam model dikonseptualisasikan
sebagai variabel laten dan yang diukur dengan beberapa indikator. Beberapa
indikator dikembangkan untuk masing-masing
model. Untuk masing-masing variabel laten diikuti dengan
setidak-tidak tiga indikator setelah dilakukan analisis faktor penegasan.
Dengan menggunakan sampel yang besar, sebaiknya di atas 100 (n>100),
analisis faktor digunakan untuk menetapkan bahwa indikator – indikator
tersebut yang akan digunakan untuk mengukur variabel-variabel laten yang
berhubungan dan yang diwakili dengan beberapa faktor. Peneliti dapat
melanjutkan prosesnya jika model pengukuran sudah divalidasi. Dua model
atau lebih kemudian dibandingkan dalam kesesuaian modelnya, yang mengukur
sejauh mana kovarian yang diprediksi oleh model tersebut berhubungan
dengan kovarian yang diobservasi dalam data.
- Program-program
untuk analisis SEM: LISREL,
AMOS, dan EQS merupakan program-program perangkat lunak untuk
melakukan analisis SEM. Lisrel dan Amos diproduksi oleh SPSS.
- Indikator
merupakan variabel-variabel yang diobservasi (observed variable),
kadang disebut sebagai variabel manifest (manifest variables) atau
variabel referensi (reference variables). Sebaiknya peneliti
menggunakan empat variabel atau lebih. Tiga variabel juga sudah cukup
dapat diterima. Jika hanya digunakan dua variabel, maka analisis akan
bermasalah. Berkaitan dengan itu, jika hanya digunakan satu pengukuran,
maka kesalahan (error) tidak dapat dibuat model. Model – model yang menggunakan
hanya dua indikator per variabel laten akan sulit diidentifikasi (underidentified)
dan estimasi-estimasi kesalahan akan tidak reliabel.
- Variabel-variabel
laten merupakan variabel-variabel yang tidak terobservasi (unobserved
variables) atau disebut sebagai konstruk (constructs) atau
sebutan lainnya ialah faktor (factors) yang diukur dengan
menggunakan indikator-indikator masing-masing. Variabel-variabel laten
mencakup variabel bebas, perantara dan tergantung. Variabel-variabel
"exogenous" merupakan variabel bebas dengan tanpa variabel
penyebab sebelumnya. Variabel-variabel "endogenous"merupakan
variabel-variabel perantara yang dapat sebagai efek dari variabel exogenous lainnya atau
variabel-variabel perantara, dan merupakan penyebab terhadap
variabel-variabel perantara lainnya dan variabel-variabel tergantung,
serta dapat berfungsi sebagai variabel-variabel tergantung sebenarnya.
Variabel-variabel dalam suatu model dapat bersifat mengalir keatas (upstream)
atau kebawah (downstream) tergantung pada apakah variabel-variabel
tersebut dianggap sebagai penyebab atau akibat. Representasi dari
variabel-variabel laten tergantung pada hubungan mereka terhadap
variabel-variabel indikator yang diobservasi merupakan salah satu
karakteristik SEM.
Catatan: Variabel-variabel indikator
tidak dapat dikombinasikan secara arbitrer untuk membentuk variabel-variabel laten. Sebagai
contoh, menggabungkan variabel jender, ras, atau variabel-variabel demografi
lainnya untuk membentuk satu variabel laten yang disebut "faktor-faktor
latar belakang" akan berakibat tidak benar karena penggabungan tersebut
tidak mewakili kontinum yang mendasari makna variabel-variabel yang digabung.
Langkah analisis faktor konfirmatori dalam SEM merupakan suatu pengujian makna
dari variabel-variabel laten dan indikator-indikatornya Sekalipun demikian
peneliti juga dapat mengaplikasikan pengujian tradisional, seperti Cronbach's alpha atau melakukan analisis
faktor tradisional, seperti membuat
faktor axis utama
- Model
pengukuran. Model pengukuran adalah bagian dari suatu model SEM yang
berhubungan dengan variabel-variabel laten dan indikator-indikatornya. Model
pengukuran murni disebut model
analisis faktor konfirmatori atau confirmatory
factor analysis (CFA) dimana terdapat kovarian yang tidak terukur
antara masing-masing pasangan variabel-variabel yang memungkinkan.
Terdapat anak panah lurus dari
variabel-variabel laten kearah indikator-indikator masing-masing.
Terdapat anak panah – anak panah lurus dari faktor kesalahan dan gangguan
(error and disturbance terms) kearah variabel-variabel
masing-masing. Sekalipun demikian tidak ada pengaruh langsung atau anak panah lurus yang menghubungkan
dengan variabel-variabel laten. Model pengukuran dievaluasi sebagaimana
model SEM lainnya dengan
menggunakan pengukuran uji
keselarasan. Proses analisis hanya dapat dilanjutkan jika model
pengukuran valid.
- Model
yang tidak mempunyai efek (The null model). Model pengukuran
biasanya digunakan sebagai model yang tidak mempunyai pengaruh (null
model), perbedaan-perbedaan yang seharusnya signifikan jika model
struktural yang diusulkan harus diteliti lebih lanjut. Dalam model ini,
semua kovarian dalam matriks kovarian untuk semua variabel laten yang
diasumsikan nol.
- Model
struktural. Model struktural dapat dikontraskan dengan model
pengukuran. Model ini adalah seperangkat variabel exogenous dan endogenous
dalam suatu model, bersamaan dengan efek langsung atau arah anak panah
langsung yang menghungkannya, dan faktor gangguan untuk semua variabel
tersebut.
- Analisis
faktor konfirmatori (Confirmatory factor analysis (CFA)) boleh
digunakan untuk menegaskan bahwa semua indikator mengelompokan sendiri
kedalam faktor-faktor yang berkaitan dengan bagaimana peneliti telah
menghubungkan indikator-indikator
dengan variabel-variabel laten. CFA mempunyai peranan penting dalam SEM.
Model-model CFA dalam SEM digunakan untuk menilai peranan kesalahan
pengukuran dalam model, untuk
validasi model multifaktorial, dan
untuk menentukan efek-efek kelompok pada faktor-faktor.
- Spesifikasi
model merupakan proses dimana peneliti meyakinkan bahwa efek-efeknya
tidak ada (null), yang sesuai dengan nilai konstan biasanya sebesar
1.0, dan kadang juga bervariasi. Efek-efek variabel berhubungan dengan
anak panah – anak panah dalam model tersebut; sedang tidak adanya efek
berhubungan dengan ketidak adanya
anak panah. Efek-efek yang sudah pasti biasanya merefleksikan efek-efek yang parameternya sudah ada
dalam teori atau yang biasanya ditentukan sebesar 1.0 untuk menetapkan
suatu metrik untuk satu
variabel laten.
Model spesifikasi ada dua: pertama model
parsimony (model yang dibuat sesederhana mungkin), yaitu suatu model
dimana tidak adanya efek dibatasi sampai 0 yang akan selalu sesuai dengan data
yang ada sekalipun model tersebut tidak mempunyai makna. Model yang lebih
mendekati adalah model yang paling kompleks yang akan menjadi lebih sesuai
dengan data. Kekurangan parsimony merupakan suatu masalah khusus untuk
model-model dengan variabel yang jumlahnya sedikit.
Cara-cara mengurangi kompleksitas model
adalah pertama, dengan menghilangkan efek-efek langsung dari satu variabel
laten ke yang lain; kedua, menghilangkan efek-efek langsung dari
variabel-variabel laten yang menuju ke variabel indikator yang sama; dan
ketiga, menghilangkan korelasi yang tidak dianalisis atau semua anak-panah
dengan dua arah yang berbentuk kurva faktor-faktor kesalahan pengukuran serta
antara faktor-faktor gangguan dari variabel-variabel endogenous. Pada
masing-masing kasus, semua anak panah dapat dihilangkan dari model jika tidak ada
alasan teoritis yang digunakan untuk menduga bahwa memang efek atau korelasi
ada.
Model spesifikasi kedua disebut sebagai
faktor-faktor interaksi dan power
polynomials dimana hal tersebut
dapat ditambahkan terhadap model struktural sebagaimana biasanya ditambahkan ke
dalam regresi berganda. Sekalipun demikian, untuk menghindari temuan-temuan
keselarasan yang hanya disebabkan oleh pengaruh rata-rata, diusulkan untuk
memfokuskan efek utama terlebih dahulu ketika sedang menambahkan faktor-faktor
tersebut. Pemfokusan dilakukan dengan
cara mengurangi rata-rata dari masing masing nilai. Tindakan ini akan
memberikan efek mengurangi secara substansial kolinearitas antara variabel
akibat utama dan interaksi serta faktor-faktor polynomial.
- Metrik.
Dalam SEM, masing-masing variabel laten yang tidak terobservasi harus
dikenakan secara eksplisit suatu
metrik, yang merupakan skala pengukuran. Hak ini biasanya dilakukan
dengan cara membatasi salah satu jalur dari variabel laten yang menuju
kearah salah satu dari variabel-variabel indikatornya, sebagaimana saat
memberikan nilai 1 untuk jalur tersebut. Dengan diberikannya batasan
tersebut, jalur-jalur berikutnya dapat diestimasi. Indikator yang dipilih
untuk dibatasi menjadi 1 adalah
butir referensi (reference
item).
- Kesalahan
dan faktor gangguan (error and disturbance terms). Kesalahan atau error
term menunjuk pada faktor kesalahan pengukuran yang dikaitkan dengan
indikator yang diberikan. Dimana model-model regresi secara implisit
diasumsikan mempunyai kesalahan pengukuran sebesar 0. Faktor-faktor
kesalahan secara eksplisit dibuat modelnya dalam SEM dan sebagai hasil
dari koefesien-koefesien jalur yang dibuat model dalam SEM. Perlu diingat bahwa faktor-faktor
kesalahan pengukuran tidak boleh disamakan dengan faktor-faktor kesalahan
residual (residual error terms), yang juga disebut sebagai
faktor-faktor gangguan (disturbance terms), yang merefleksikan varian yang tidak dapat
diterangkan dalam variabel – variabel laten endogenous variable disebabkan
oleh beberapa penyebab yang tidak
diukur.
- Faktor-faktor
kesalahan yang berkorelasi (correlated error terms) mengacu
pada situasi dimana pengetahuan tentang residu satu indikator akan
membantu dalam mengetahui residu yang dihubungkan dengan indikator yang
lain. Faktor-faktor kesalahan yang tidak berkorelasi (uncorrelated
error terms) merupakan suatu asumsi regresi, dimana faktor-faktor kesalahan korelasi dapat atau sebaiknya
harus secara eksplisit dibuat model dalam SEM. Maksudnya, dalam regresi
peneliti membuat model variabel-variabel,
sedang dalam SEM peneliti harus membuat model kesalahan serta variabel – variabel yang bersangkutan.
- Koefesien
struktural atau jalur merupakan besarnya efek yang dihitung dengan
menggunakan program estimasi model.
- Tipe-tipe
estimasi koefisien - koefesien dalam SEM. Koefesien-koefesien
struktural dalam SEM dapat dihitung
dengan berbagai cara. Biasanya, peneliti akan mendapatkan estimasi
yang mirip dengan setiap metode yang digunakan. Metode tersebut
diantaranya ialah:
- Estimasi
kesamaan maksimum (Maximum likelihood estimation (MLE)) yang
merupakan metode yang paling umum. MLE membuat estimasi didasarkan pada
tindakan memaksimalkan probabilitas (likelihood) bahwa
kovarian-kovarian yang diobservasi ditarik dari suatu populasi yang
diasumsikan sama seperti yang direfleksikan dalam estimasi-estimasi koefisien. Artinya, MLE mengambil
estimasi-estimasi yang mempunyai
kesempatan terbesar untuk mereproduksi data yang diobservasi.
- Metode
estimasi lainnya memang ada dan mungkin dapat cocok dalam situasi-situasi
tertentu, diantaranya, yaitu GLS (generalized least squares) yang
merupakan metode kedua yang paling populer setelah MLE. GLS dapat
bekerja dengan baik untuk sampel besar, misalnya diatas 2500 (n>2500).
- Koefesien-koefesien
struktural (jalur) yang sudah distandarisasi (Standardized
structural (path) coefficients). Estimasi koefesien struktutral yang
distandarisasi didasarkan pada data yang sudah distandarisasi yang
mencakup matriks-matriks korelasi. Estimasi yang sudah distandarisasi
digunakan untuk pada saat membandingkan
efek-efek langsung terhadap satu variabel endogenous yang diberikan dalam suatu
studi kelompok tunggal, yaitu sebagaimana dalam regresi OLS. Pembobotan
yang sudah distandarisasi (the
standardized weights) digunakan untuk membandingkan tingkat
kepentingan relatif dari variabel-variabel bebas. Penafsirannya sama
dengan regresi, yaitu jika suatu koefesien struktural yang sudah
distandarisasi adalah sebesar 2.0, maka variabel laten tergantung akan
meningkat menjadi sebesar 2.0 unit –unit
standard untuk
masing-masing unit meningkat dalam variabel laten bebas .
- Rasio
Kritis dan signifikansi koefesien-koefesien jalur (The Critical
Ratio (CR) and significance of
path coefficients). Pada saat besarnya rasio krisis (CR)
> 1.96 untuk pembobotan regresi (regression weight), dan
jalur signifikan pada level 0,05.
- Rasio
krisis dan signifikansi kovarian-kovarian faktor (The Critical
Ratio and the significance of factor covariances). Signifikansi
kovarian-kovarian yang diestimasi diantara variabel-variabel laten
dinilai dengan cara yang sama, yaitu jika mereka mempunyai CR > 1.96,
maka merka signifikan.
- Koefesien-koefesien
struktural (jalur) yang tidak distandarisasi (Unstandardized
structural (path) coefficients). Estimasi-estimasi yang tidak
distandarisasi didasarkan pada data mentah atau matriks-matriks kovarian. Pada saat sedang
membandingkan kelompok-kelompok, maka indikator-indikator dapat mempunyai
varian-varian yang berbeda, seperti juga pada variabel-variabel laten,
faktor-faktor kesalahan pengukuran (measurement error terms), dan
faktor-faktor gangguan (disturbance terms). Jika kelompok-kelompok
mempunyai varian-varian yang berbeda, maka perbandingan yang tidak
distandarisasi akan lebih disukai. Untuk estimasi-estimasi yang tidak
distandarisasi, koefesien-koefesien yang sama mempunyai makna efek-efek
absolut yang sama terhadap y. Sedang estimasi-estimasi yang
distandarisai, koefesien-koefesien yang sama mempunyai makna efek-efek
yang sama terhadap y relatif terhadap perbedaan-perbedaan dalam rata-rata
dan varian.
- Muatan
(Loadings): Variabel-variabel laten dalam SEM sama
dengan faktor-faktor dalam analisis faktor, dan variabel-variabel
indikator juga mempunyai muatan (loadings)
pada variabel-variabel laten masing-masing. Seperti dalam analisis faktor,
muatan-muatan tersebut dapat digunakan untuk memahami makna dari faktor-faktor atau variabel-variabel
laten. Jumlah muatan yang dikuadratkan untuk semua indikator sama dengan
korelasi jamak yang dikuadratkan untuk variabel-variabel laten Y atau X.
Muatan juga digunakan untuk menilai reliabilitas variabel-variabel laten
sebagaimana diterangkan di bagian berikut ini:
o
Pengujian untuk invariance pengukuran dalam
lintas kelompok Testing for measurement invariance across groups (multigroup
modeling). Peneliti sering menginginkan dapat menentukan seandainya model
SEM dapat diaplikasikan kedalam lintas kelompok. Prosedur umum adalah melakukan
pengujian untuk invariance pengukuran antara model yang tidak dibatasi
untuk semua kelompok yang dikombinasikan, kemudian untuk suatu model dimana parameter-parameter
tertentu dibatasi menjadi sama diantara kelompok-kelompok tersebut. Jika
statistik pembeda chi-square tidak membeberkan adanya perbedaan yang signifikan
antara model asli dengan model sama yang, maka peneliti menyimpulkan
bahwa model mempunyai invariance pengukuran lintas kelompok, oleh karena
it modelnya dapat diaplikasikan dalam lintas kelompok.
- Pengujian
untuk invariance struktural dalam lintas kelompok (Testing for
Structural Invariance across Groups). Jika orang mendemonstrasikan invariance
model pengukuran pada lintas kelompok sudah biasa, maka memungkinkan juga
bagi peneliti untuk melakukan pengujian terhadap invariance
struktural dalam lintas kelompok. Pengujian-pengujian seperti ini dilakukan
dengan menghubungkan semua anak
panah yang saling berhubungan dalam variabel - variabel laten satu dengan lainnya digambar secara
benar dengan cara yang sama bagi masing-masing kelompok dalam suatu
analisis. Prosedur ini sama dengan pengujian untuk pengukuran invariance.
Pengujian perbedaan chi-square
dapat dilakukan. Jika model-model dasar dan yang dibatasi secara
signifikan tidak berbeda, maka hal tersebut disimpulkan bahwa model
struktural bersifat invariant antara sampel kalibrasi dan validasi, oleh
karena itu pada model tersebut sebaiknya dilakukan validasi silang.
Sebaliknya, Jika model-model dasar dan yang dibatasi secara signifikan
berbeda, peneliti dapat membut kesimpulan bahwa ada efek moderasi pada
hubungan sebab akibat dalam model dan efek bervariasi didasarkan kelompok
masing-masing.
- Reliabilitas
konstruk (Construct reliability). Didasarkan pada konvensi
besarnya setidak-tidaknya 0,70 untuk muatan-muatan faktor factor
loadings. Misalnya sli merupakan muatan-muatan yang distandarisasi (the standardized loadings)
untuk semua indikator dalam variabel laten tertentu dan ei
merupakan faktor kesalahan yang berkorepondensi (corresponding error terms),
dimana kesalahan sebesar 1 minus reliabilitas indikator, yang merrupakan
kudrat dari muatan indikator yang distandarisasi, maka
reliabilitas = [(SUM(sli))2]/[(SUM(sli))2
+ SUM(ei))].
- Varian yang
diekstrak (Variance extracted), didasarkan pada konvensi
besarnya setidak-tidaknya 0,50. Formulanya merupakan variasi pada
reliabiltas konstruk sbb:
Variance extracted = [(SUM(sli2)]/[(SUM(sli2)
+ SUM(ei))].
- R
kuadrat, korelasi jamak yang dikuadratkan (R-squared, the squared
multiple correlation). Ada
satu R kuadrat atau disebut juga sebagai korelasi jamak yang dikuadratkan
(squared multiple correlation (SMC)) untuk masing-masing variabel endogenous dalam suatu model
tertentu, yaitu varian persen yang diterangkan dalam variabel tersebut.
- Korelasi
jamak yang dikuadratkan untuk variabel Y: Ini merupakan bagian dari
keluaran LISREL yang memberikan
persen varian dalam indikator-indikator variabel tergantung yang
dikenakan pada variabel (variabel) laten tergantung terhadap kesalahan
pengukuran.
- Korelasi
jamak yang dikuadratkan untuk variabel X: Ini merupakan bagian dari
keluaran LISREL yang memberikan
persen varian dalam indikator-indikator variabel tergantung yang
dikenakan pada variabel (variabel) laten bebas terhadap kesalahan
pengukuran
- Korelasi jamak
yang dikuadratkan untuk persamaan-persamaan struktural: Ini merupakan
bagian dari keluaran LISREL yang memberikan persen varian dalam variabel
(variabel ) laten tergantung yang berfungsi untuk menerangkan variabel-variabel laten bebas.
- Solusi
yang distandarisasi secara lengkap: matriks korelasi eta dan KSI (Completely
standardized solution: correlation matrix of eta and KSI): Dalam
keluaran LISREL, ini merupakan matriks korelasi-korelasi variabel-variabel
laten tergantung dan bebas. Eta merupakan koefesien korelasi nonlinear.
·
Pengujian keselarasan (Goodness
of fit tests) menentukan jika suatu model sedang diuji harus diterima atau
ditolak. Pengujian keselarasan total ini tidak akan menetapkan jalur-jalur
khusus tersebut dalam suatu model untuk dapat menjadi signifikan. Jika suatu
model diterima, maka peneliti kemudian akan melakukan interpretasi terhadap
koefesien-koefesien jalur dalam model tersebut. Perlu diketahui bahwa koefesien
jalur yang signifikan dalam model-model yang tidak selaras akan tidak mempunyai
arti..
Dalam kasus-kasus dimana variabel-variabel
mempunyai korelasi rendah, maka koefesien-koefesien structural (lajur) akan
rendah juga. Peneliti harus memberikan keterangan tidak hanya pengukuran
keselarasan tetapi juga semua koefesien struktural sehingga kekuatan-kekuatan
jalur dalam model dapat dinilai.
Kecocokan yang bagus tidak berarti bahwa
masing-masing bagian model tertentu mempunyai kecocokan atau keselarasan secara
baik. Suatu kecocokan yang baik juga tidak berarti bahwa semua variable
exogenous menjadi penyebab terhadap variable-variabel endogenous . Perlu diingat juga bahwa peneliti dapat vmemperoleh
kecocokan yang tidak baik bukan karena model strukturalnya yang salah tetapi
karena disebabkan oleh model pengukuran yang salah.
Suatu
model dengan indikator-indikator yang lebih sedikit untuk setiap satu
faktor akan mempunyai penampakan kecocokan yang tinggi daripada sebuah model dengan lebih banyak indikator untuk
setiap faktornya.
·
Fungsi kesamaan maksimal (maximum
likelihood function, LL) bukan merupakan pengujian keselarasan itu sendiri
tetapi digunakan sebagai satu komponen dari yang lainnya. Fungsi ini
merefleksikan perbedaan antara matriks kovarian dan matriks yang diprediksi
dengan menggunakan model tersebut. Fungsi tersebut sbb:
- Kesamaan
log dasar (Baseline log likelihood) merupakan kesamaan ketika tidak ada variabel bebas dan
hanya ada konstan dalam persamaan tersebut.
- Kesamaan
log model (Model log likelihood) merupakan kesamaan log ketika
variabel bebas disertakan dalam model juga. Semakin besar perbedaan LL
dasar minus LL model, semakin meyakinkan peneliti bahwa semua variabel
bebas benar-benar memberikan kontribusi terhadap model lebih dari sekedar
jumlah yang acak.
- Pengujian-pengujian
keselarasan didasarkan pada
kovarian yang diprediksi dan yang diobservasi (Goodness-of-fit
tests based on predicted vs. observed covariances):
Pengukuran seperangkat keselarasan ini
didasarkan pada kecocokan model terhadap momen-,momen sampel, yang mempunyai arti membandingkan
matriks kovarian yang diobservasi dengan matriks yang diestimasi dengan asumsi
bahwa model yang sedang diuji benar. Pengukuran-pengukuran ini, dengan
demikian, menggunakan apa yang disebut dengan fungsi keterbedaan konvensional (conventional
discrepancy function).
- Pengujian-pengujian
keselarasan dengan membandingkan model yang diberikan dan model alternatif
(Goodness-of-fit tests comparing the given model with an alternative
model):
Pengukuran-pengukuran
keselarasan ini membandingkan model yang dibuat oleh peneliti untuk dicocokkan
dengan model yang lain. Kondisi ini akan baik jika ada model kedua. Jika tidak
model yang dispesifikasi, maka paket-paket statistik biasanya menggunakan
standar (default) untuk membandingkan model yang sudah dibuat dengan
model yang independen. Model bebas adalah model nol, yang merupakan model
dimana semua variabel diasumsikan tidak berkorelasi dengan variabel (variabel)
tergantung.
- Pengujian-pengujian
keselarasan tes didasarkan pada
kovarian yang diprediksi versus kovarian yang diobservasi tetapi terdapat
kerugian karena kekurangan parsimoni atau kesederhaan model (Goodness-of-fit
tests based on predicted vs. observed covariances but penalizing for lack
of parsimony):
Pengkuran parsimoni tidak
memberikan manfaat karena kurangnya masalah kesederhanaan model. Hal ini
dikarenakan semakin kompleksnya suatu model maka akan menimbulkan kecocokan
yang lebih baik daripada model-model yang kurang kompleks. Saat membandingkan
model, semakin tinggi pengukuran parsimoni akan mewakili kecocokan yang semakin
baik. Beberapa macam parsimoni, diantaranya:
- Rasio
parsimoni (parsimony ratio (PRATIO)) merupakan rasio derajat
kebebasan (degree of freedom) dalam model yang dibuat oleh peneliti
terhadap derajat kebebasan
dalam model independent
(nol).
- Indeks
parsimoni (parsimony index)
merupakan rasio parsimoni dikalikan dengan BBI, (the
Bentler/Bonnett index), besarnya adalah harus > 0,9 untuk
mengasumsikan kecocokan yang baik.
3.
Kesalahan kuadrat rata-rata akar (Root mean
square error of approximation, RMSEA), disebut juga RMS atau RMSE dan juga perbedaan per derajat kebebasan
(degree of freedom). Didasarkan pada konvensi, ada kecocokan model yang
baik jika RMSEA besarnya lebih kecil atau sama dengan 0,05. ada kecocokan model
yang cukup jika besarnya RMSEA kurang dari atau sama dengan 0,08. Penemuan yang
terbaru, Hu dan Bentler (1999) menyarankan besarnya RMSEA <= 0,06 merupakan
titik potong untuk sebuah kecocokan model yang baik.
4.
Indeks keselarasan parsimoni (The parsimony
goodness of fit index, PGFI). PGFI merupakan varian dari GFI yng dikalikan dengan rasio yang diperoleh
melalui derajat kebebasan dalam model yang dibuat oleh peneliti dibagi dengan
derajat kebebasan dalam model yang independen.
5.
Indeks kecocokan standar parsimoni (The
parsimony normed fit index, PNFI), sama dengan PRATIO dikalikan dengan NFI.
6.
Indeks kecocokan komparatif parsimoni (The parsimony
comparative fit index, PCFI), sama dengan PRATIO dikalikan dengan CFI.
- Pengukuran keselarasan
didasarkan pada teori informasi (Goodness of fit measures based on
information theory)
Pengukuran ini cocok jika peneliti membandingkan
model-model yang sudah diestimasikan dengan menggunakan estimasi kesamaan
maksimal. Sebagai suatu kelompok, perangkat pengukuran ini kurang umum dalam
literatur, sekalipun demikian terus berubah.
- Kuantil
(Quantile or Q-Plots) menyusun residual yang distandarisasi
dengan menggunakan ukuran serta poin – poin persentase dalam distribusi
sampel yang dihitung. Kemudian residual dibagi dengan deviasi normal yang
berhubungan dengan poin-poin persentase ini yang disebut kuantil normal. Stem-and-leaf
plots residual yang distandarisasi juga disediakan dalam program
LISREL.
- Ukuran
efek interaksi (Interaction effect size, IES): IES
merupakan suatu pengukuran magnitude dari efek interaksi. Dalam SEM, IES
merupakan kriteria yang sama didasarkan pada keselarasan chi-square. Perlu
diingat bahwa semakin kecil nilai chi-square, maka semakin baik kecocokan
mode. IES merupakan chi-square persen dikurangi dengan menambahkan
variabel interaksi terhadap model yang dimaksud.
1.5. Model
Dalam SEM
Pendekatan dalam pembuatan model
SEM menggunakan pengembangan model pengukuran (measurement model) dan
model struktural (structural model). Model pertama menghasilkan
validitas konvergen (convergent validity) dan validitas diskriminan (discriminant
validity) sedang model kedua menghasilkan validitas prediktif (predictive
validity).
Untuk melakukan pembuatan model
diperlukan data yang akan diolah dan dianalisis. Data tersebut berupa matriks
kovarian dari data hasil penelitian empiris. Selanjutnya data ini akan
dijadikan sebagai dasar untuk menghasilkan matriks kovarian estimasi populasi.
Pertanyaan mendasar yang muncul dalam SEM ialah “Apakah model menghasilkan sebuah
matriks kovarian populasi yang diestimasi yang konsisten dengan matriks
kovarian sampel yang diteliti”. Sedang untuk pertanyaan penelitian yang
mendasar ialah:”Apakah data yang diobservasi sesuai dan konsisten dengan teori
atau model yang akan diuji?”. Jika model yang dibuat dapat memperoleh dukungan
empiris yang memadai, maka pertanyaan selanjutnya ialah berapa besar pengaruh antar
variabel yang dibangun didasarkan pada model teoritis tersebut?” (Ferdinand,
2001:22). Oleh karena itu, menurut Augusty Ferdinand, SEM akan cocok digunakan
dalam: 1) melakukan konfirmasi unideminsionalitas berbagai indikator untuk
konstruk/konsep/faktor; 2) melakukan pengujian kesesuaian / ketepatan suatu
model tertentu didasarkan pada data empiris yang ada; dan 3) melalukan
pengujian kesesuain model serta menganalisis hubungan sebab akibat (causal
relationship) antar faktor yang dibangun dalam model tersebut.
Selanjutnya pemodelan SEM,
menurut Agusty Ferdinand, dibuat melalui tahapan sbb:
- Pengembangan berbasis teori
- Pengembangan diagram alur untuk menunjukkan
hubungan kausalitas.
- Konversi diagram alur kedalam serangkaian
persamaan struktural dan spesifikasi model pengukuran.
- Pemilihan matriks input (masukan) dan teknik
estimasi terhadap model yang dibuat
- Menilai problem identifikasi
- Mengevaluasi model
- Melakukan interpretasi dan modifikasi model
Tahap pertama berkaitan dengan
landasan teori yang akan digunakan sebagai pengesahan model yang dibuat oleh
peneliti. Dengan kata lain, teori yang digunakan akan berfungsi sebagai
justifikasi model yang akan dikembangkan. Jika tidak ada teori yang